Pages

Monday, November 26, 2012

Makalah Perkembangan Islam Abad Pertengahan


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bismillahirohmanirohim.
            Alhamdulillahirobbil’alamiin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmad, taufiq, dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan Makalah Perkembangan Islam Pada Abad Pertengahan.
            Makalah ini dibuat sebagai hasil dari tugas yang diberikan oleh guru agama islam di SMAN 2 Lamongan bapak Drs. Nurul Anwar. Yang kami susun berdasarkan tema yang diberikan oleh beliau yaitu Perkembangan Islam pada Abad Pertengahan dengan isi yang telah kami kembangkan sendiri dari berbagai sumber yang ada.
            Akhirnya, hanya kepada Allah SWT kami berserah diri. Semoga apa yang telah kami upayakan bisa memberi manfaat yang maksimal dan mendapatkan ridho-Nya. Semoga Allah SWT membersihkan dan memaafkan niat-niat yang kurang ikhlas. Adapun aholawat dan salam, semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW. Amiin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.



DAFTAR ISI 
                                                                                                                                  Halaman   
KATA PENGANTAR .................................................................................................. ..........  i
DAFTAR ISI ................................................................................................................. .........  ii
BAB I   PENDAHULUAN .......................................................................................... ...........  1
1.1   Latar Belakang Masalah .......................................................................... ..........  1
1.2   Rumusan Masalah .................................................................................... .........   1
1.3   Tujuan Pembahasan ................................................................................. .........   2
BAB II  KAJIAN PUSTAKA ...................................................................................... ..........   3
2.1   Sekilas tentang Dunia Islam pada Abad Pertengahan ............................. ............   3
 2.1.1   Kerajaan Ottoman di Turki ........................................................... .........   3
 2.1.2   Kerajaan Mogul di India .............................................................. .......... 13
 2.1.3   Kerajaan Safawi di Persia (sekarang Iran) .................................... .......... 18
2.2   Perkembangan Ajaran Islam pada Abad Pertengahan ............................ ............ 23
2.3   Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Abad Pertengahan .................... ............. 25
2.4   Perkembangan Kebudayaan Islam pada Abad Pertengahan ................... ............ 34
 2.4.1   Arsitektur ...................................................................................... ........ 34
 2.4.2   Seni Sastra .................................................................................... ........ 35
BAB III PENUTUP ...................................................................................................... ......... 36
3.1   Kesimpulan .............................................................................................. ........ 36
3.2   Saran......................................................................................................... ....... 37
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 38




BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang Masalah
            Penulisan makalah ini dilatar belakangi oleh adanya era globalisasi saat ini guru sangat kesulitan untuk menentukan dengan cara apa mereka memberikan pembelajaran atau materi kepada murid-muridnya. Karena anak zaman sekarang mudah sekali bosan dengan metode pembelajaran yang itu-itu saja. Guru dituntun untuk lebeh kreatif dalam penyampaian materi agar murid-murid merasa antusias dalam belajar.
            Selain itu para murid juga dituntut menjadi lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran dan untuh membantu murid lebih memahami sejarah perkembangan Islam pada abad pertengahan. Seperti yang kite ketahui selama ini para murid cendrung menjadi pengamat pasif dalam kegiatan pembelajaran, bahkan sering kali murid tidak memperhatikan gurunya saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
         Untuk itu makalah ini dibuat sebagai realisasi pengembangan metode penyampaian materi para guru. Dan semoga bisa membantu para murid agar lebih aktif dan memperhatikan saat proses belajar mengajar berlangsung juga bisa membiasakan para murid membuat sebuah makalah yang nantinya akan membantu mereka.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasrkan latar belakang masalah yang ada, maka perumusan masalah dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.2.1   Bagimana keaktifan para murid dalam kegiatan belajar-mengajar dengan materi Perkembangan Islam pada Abad Pertengahan?
1.2.2    Bagaimana siswa dapat memahami tentang perkembangan Islam pada abad pertengahan?
1.2.3    Apa faktor-faktor yang menyebebkan kemunduran Islam pada periode pertengahan dibanding dengan Islam pada periode klasik?
1.2.4    Kerajaan-kerajaan apa sajakah yang berkuasa pada periode Islam abad pertengahan?

1.3  Tujuan Pembahasan
Dalam penulisa makalah ini ada beberapa tujuan yang ingin didapat, antara lain :
1.3.1  Untuk mengetahui keaktifan para murid dalam kegiatan belajar-mengajar dengan materi Perkembangan Islam pada Abad Pertengahan?
13.2    Untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap perkembangan Islam pada abad pertengahan?
1.3.3 Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebebkan kemunduran Islam pada periode pertengahan dibanding dengan Islam pada periode klasik?
1.3.4  Untuk mengetahui kerajaan-kerajaan apa sajakah yang berkuasa pada periode Islam abad pertengahan?



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1  Sekilas Tentang Dunia Islam pada Abad Pertengahan
Sejarah Islam telah mengalami tiga periode, yaitu periode klasik (650-1250 M), periode pertengahan (1250-1800 M), dan periode modern (1800-sekarang). Pada periode klasik, Islam mengalami kemajuan dan masa keemasan. Hal ini ditandai dengan sangat luasnya wilayah kekuasaan Islam, adanya integrasi antar wilayah Islam, dan adanya kemajuan di bidang ilmu dan sains. Pada abad pertengahan, Islam mengalami kemunduran. Hal ini ditandai  dengan tidak aadanya lagi kekuasaan Islam yang utuh yang meliputi seluruh wilayah Islam, dan terpecahnya Islam menjadi kerajaan-kerajaan yang terpisah. Kerajaan-kerajaan itu antara lain :
2.1.1  Kerajaan Ottoman di Turki
Karajan Ottoman atau Kesultanan Turki Utsmani didirikan oleh Bani Utsman, yang salaam 2 Abad kekuasaannya, telah dipimpin 8 sultan, sebelum akhirnya berekspansi ke sebagian negeri Arab. Turki Utsmani sama dengan pendahulunya, seperti Turki Seljuk dan kabilah Hun. Mereka berasal dari keturunan Mongol atau Thurani, yang merambah ke Eropa di abad ke-5 Masehi. Mereka lahir dan dibesarkan di Asia Tengah dan Utara. Etnis yang sama juga dimiliki bangsa Bulgaria, yang merambah ke Eropa Timur, dan menetap di sana pada abad ke-7 dan 9 Masehi. Turki Utsmani adalah etnis Asia terakhir yang merambah dan mendiami Eropa, bahkan merupakan negara Mongol terpenting dan terkuat dalam sejarah.
2.1.1.1  Sejarah Awal dan Masa Kejayaan
Pada pertengahan abad ke-13, Turki Utsmani merupakan salah satu kabilah kecil di Asia Tengah di bawah pimpinan Ertoghul, kepala suku Turki Utsmani - menyusuri Asia Tengah, dekat Ankara. Pimpinan kabilah kecil ini berpartisipasi dalam perang antara kekaisaran Romawi dan Dinasti Seljuk Rum yang berpusat di Iconium dipimpin Sultan 'Alauddin, dan akhirnya Ertoghul dan sekutunya menang berperang.

Kabilah kecil dan Ertoghul inilah yang menjadi cikal bakal Turki Utsmani. Ialah bapak Utsman, yang namanya dipakai sebagai nama negara yang dibangunnya (dalam tulisan Arab ʿUthmān, عُثمَان).
Setelah Ertoghul meninggal 1288, putranya Utsmanlah yang menggantikannya. Ia dikenal sebagai pemimpin yang berani mengalahkan kabilah dan trah yang berdekatan. Inilah yang mendorong Sultan 'Alauddin mengangkatnya sebagai pemimpin dan membuatnya jadi penguasa berdiri sendiri di wilayah yang ditaklukkannya.
Tahun 1300 Mongol menyerang dan menghancurkan Kesultanan Seljuk di Asia Kecil. Sultan 'Alauddinpun meninggal dan setiap etnis bercerai berai, termasuk Utsman. Dari sanalah kekuasaannya berkembang sampai ia mendengar penaklukan Bursa, saat hendak meninggal. Utsman memberi perhatian besar pada strukturisasi tentara dan pemerintahan dan namanya dijadikan nama negara yang didirikannya.
Tahun 1326 Utsman meninggal dan digantikan putranya Ourkhan, yang berhasil mengambil alih Bursa, dan menjadikannya ibukota negara baru ini. Dengan ini ia telah mendekati ambisinya untuk menduduki Konstantinopel, ibukota Bizantium.
Sebelum perang antarpemerintahan berlangsung, ia melihat pentingnya pembenahan, yang kelak berpengaruh bagi kemenangan Turki Utsmani, pertama di Asia Kecil lalu Eropa. Ia menyerang dan merampas Nicomedia dan Nicea serta negeri Asia dan Bizantium lainnya. Selama 20 tahun, ia mengokohkan pilar pemerintahannya, memperbaiki urusan dalam negara dan membentuk angkatan bersenjata baru, yang disebut Yennisari, yang dalam waktu lama menjadi penopang kekuatan kesultanan, dalam perang dan penaklukan.
Sultan berikutnya adalah Murad I (1359-1389), ia merebut Adranah (1361), Sofia (1383), dan pada perang Kosovo 1389 mengalahkan Serbia. Ia diganti Bajazet I (1389-1403) yang menaklukkan Bulgaria, Perancis dan Jerman (1393). Tahun 1402, Timur Lenk dari Mongolia menaklukkan Ankara dan Bajazet I tertawan, namun akhirnya ia dibebaskan. Bajazet I digantikan berturut-turut oleh Suleiman I (1403-1411), Musa (1411-1413), dan Mehmed Halabi/Mehmed I (1413-1421). Mehmed I digantikan Murad II. Ia menaklukkan kembali kawasan yang ditaklukkan Timur Lenk (1422-1428) dan Albania (1431).
Setelah naik tahta tahun 1451, Mehmed II bin Murad II menaklukkan Konstantinopel (1453) dan menjadikannya negara Islam. Karena itu ia dikenal sebagai Mehmed sang Penakluk. Kota Konstantinopel dijadikan ibukota kesultanan serta jadi titik tolak rencana penaklukan Eropa, setelah terhenti akibat meninggalnya Abdurrohmanul Ghofiqi di selatan Perancis. Mehmed sang Penaklukpun menundukkan Murrah, Serbia (1458-1460) dan Bosnia (1462). Ia juga menyerang Italia, Hongaria, dan Jerman. Akhirnya Thorabzun dan Krim di Asia ditundukkannya. Ia juga menaklukkan sebagian kepulauan Yunani (1480). Iapun kembali menaklukkan Jerman dan beberapa wilayah Italia, namun akhirnya mangkat sebelum berhasil menaklukkan Rhodesia.
Ia digantikan putranya Bajazet II (1481) yang berhasil mengalahkan armada laut Bunduqiyah. Kekuasaannya diserahkan pada putranya Selim I (1512) yang oleh sebagian kalangan dipandang sebagai sultan terbesar, mendapat kemenangan dan penaklukan yang banyak. Ia menyerang kesultanan Safavid yang dipimpin Shah Ismail I (1502-1524) yang berusaha menyebarkan mazhab Syi'ah dan mengembangkan kekuasaan Persia sampai Irak. Shah Ismail dikalahkan di Galadiran, dekat Tibriz (1514). Sultan Selim I lalu menduduki Diyarbakir dan Kurdistan yang merupakan langkah awal menaklukkan Suriah dan Mesir, seiring dengan kemenangan di Maraj Dabiq (1516) dan Roidaniyah. Saat itu khilafah Islam telah berpindah ke tangannya sesuai hukum Islam setelah Kholifah al-Mutawakkil 'Alalloh III (1508-1517) menyerahkan tampuk kekhilafahan kepadanya. Sultan Salim I resmi jadi kholifah Muslimin sejak 1517. Ia meninggal setelah 8 tahun berkuasa. Syarif Makkah juga menyerahkan kunci Makkah dan Madinah kepadanya.
Setelah itu ia digantikan Kholifah Suleiman II (1520-1566). Masa kepemimpinannya dianggap sebagai era terjaya khilafah berkat kebangkitan sains yang diikuti penemuan ilmiah dan geografis Eropa, sementara khilafah ini meninggalkan negara-negara Eropa di bidang militer, sains, dan politik. Ia menaklukkan Belgrado dan Gereja terbesar di sana dialihfungsikan menjadi Masjid di mana sang kholifah mendirikan sholat Jum'at (1521). Dengan alasan untuk membebaskan diri dari pasukan Ksatria Santo Yohanes (1521) ia menaklukan Rhodesia. Buda dibuka dan Raja Louis dibunuh dalam pertempuran Mouckhaz (1526). Ia menaklukkan juga Armenia dan Irak hingga armada laut kekholifahan di seluru peraran laut mulai Laut Putih, Laut Merah hingga Samudra Hindia—meski kekuatannya belum bisa mengalahkan pasukan Ksatria St. Yohanes, penguasa Malta. Kepulauan ini adalah pemberian Charles V saat diusir tentara khilafah Turki Utsmani dari Rhodesia (1522).
Tahun 1527 Austria mengakuisisi Buda, namun akhirnya Buda ditaklukkan lagi dan Austria mundur, lalu Wina dikepung tanpa berhasil ditaklukkan (1529). Tahun 1534 Tabriz ditaklukkan lagi. Tunisia dirampas dari Spanyol dan Pulau Kreta ditaklukkan (1535). Khilafahpun berdamai dengan Austria yang setuju membayar jizyah (1539). Pest (1541), Niche (1543), Spanyol (1560), Malta (1565) dan Szeged (1566) adalah sejumlah daerah yang berhasil dirampas oleh khilafah Turki Utsmani.
Para sejarawan sepakat, zaman Suleiman II ialah zaman kebesaran dan kejayaan khilafah Turki Utsmani. Hanya dalam 3 abad, kabilah kecil ini berhasil melebarkan sayapnya dari Laut Merah, Laut Tengah dan Laut Hitam. Penaklukannya terbentang dari Mekkah hingga Buda dan Pest di satu sisi dan dari Baghdad (1534) hingga al-Jazair (1532) di sisi lain. Dua pantai, utara dan selatan, Laut Hitam berada di dalam kekuasannya. Sebagian besar kerajaan Austria dan Hongaria juga termasuk wilayah kekuasaannya. Kekuasaannya sampai di Afrika Utara dari negeri Suriah sampai Maroko. Setelah Suleiman II meninggal 1566, khilafahpun terus-menerus merosot.

2.1.1.2  Keadaan Politik Menjelang Keruntuhan
Ada 2 faktor yang membuat khilafah Turki Utsmani mundur. Pertama, buruknya pemahaman Islam. Kedua, salah menerapkan Islam. Sebetulnya, kedua hal di atas bisa diatasi saat kekholifahan dipegang orang kuat dan keimanannya tinggi, tapi kesempatan ini tak dimanfaatkan dengan baik. Suleiman II-yang dijuluki al-Qonun, karena jasanya mengadopsi UU sebagai sistem khilafah, yang saat itu merupakan khilafah terkuat-malah menyusun UU menurut mazhab tertentu, yakni mazhab Hanafi, dengan kitab Pertemuan Berbagai Lautan-nya yang ditulis Ibrohimul Halabi (1549). Padahal khilafah Islam bukan negara mazhab, jadi semua mazhab Islam memiliki tempat dalam 1 negara dan bukan hanya 1 mazhab. Dengan tak dimanfaatkannya kesempatan emas ini untuk perbaikan, 2 hal tadi tak diperbaiki. Contoh: dengan diambilnya UU oleh Suleiman II, seharusnya penyimpangan dalam pengangkatan kholifah bisa dihindari, tapi ini tak tersentuh UU. Dampaknya, setelah berakhirnya kekuasaan Suleimanul Qonun, yang jadi kholifah malah orang lemah, seperti Sultan Mustafa I (1617), Osman II (1617-1621), Murad IV (1622-1640), Ibrohim bin Ahmed (1639-1648), Mehmed IV (1648-1687), Suleiman III (1687-1690), Ahmed II (1690-1694), Mustafa II (1694-1703), Ahmed III (1703-1730), Mahmud I (1730-1754), Osman III (1754-1787), Mustafa III (1757-1773), dan Abdul Hamid I (1773-1788). Inilah yang membuat militer, Yennisari-yang dibentuk Sultan Ourkhan-saat itu memberontak (1525, 1632, 1727, dan 1826), sehingga mereka dibubarkan (1785). Selain itu, majemuknya rakyat dari segi agama, etnik dan mazhab perlu penguasa berintelektual kuat. Sehingga, para pemimpin lemah ini memicu pemberontakan kaum Druz yang dipimpin Fakhruddin bin al-Ma'ni.
Ini yang membuat politik luar negeri khilafah-dakwah dan jihad-berhenti sejak abad ke-17, sehingga Yennisari membesar, lebih dari pasukan dan peawai pemerintah biasa, sementara pemasukan negara merosot. Ini membuat khilafah terpuruk karena suap dan korupsi. Para wali dan pegawai tinggi memanfaatkan jabatannya untuk jadi penjilat dan penumpuk harta. Ditambah dengan menurunnya pajak dari Timur Jauh yang melintasi wilayah khilafah, setelah ditemukannya jalur utama yang aman, sehingga bisa langsung ke Eropa. Ini membuat mata uang khilafah tertekan, sementara sumber pendapatan negara seperti tambang, tak bisa menutupi kebutuhan uang yang terus meningkat.
Paruh kedua abad ke-16, terjadilah krisis moneter saat emas dan perak diusung ke negeri Laut Putih Tengah dari Dunia Baru lewat kolonial Spanyol. Mata uang khilafah saat itu terpuruk; infasi hebat. Mata uang Baroh diluncurkan khilafah tahun 1620 tetap gagal mengatasi inflasi. Lalu keluarlah mata uang Qisry di abad ke-17. Inilah yang membuat pasukan Utsmaniah di Yaman memberontak pada paruh kedua abad ke-16. Akibat adanya korupsi negara harus menanggung utang 300 juta lira.
Dengan tak dijalankannya politik luar negeri yang Islami-dakwah dan jihad-pemahaman jihad sebagai cara mengemban ideologi Islam ke luar negeri hilang dari benak muslimin dan kholifah. Ini terlihat saat Sultan Abdul Hamid I/Sultan Abdul Hamid Khan meminta Syekh al-Azhar membaca Shohihul Bukhori di al-Azhar agar Allah SWT memenangkannya atas Rusia (1788). Sultanpun meminta Gubernur Mesir saat itu agar memilih 10 ulama dari seluruh mazhab membaca kitab itu tiap hari.
Sejak jatuhnya Konstantinopel di abad 15, Eropa-Kristen melihatnya sebagai awal Masalah Ketimuran, sampai abad 16 saat penaklukan Balkan, seperti Bosnia, Albania, Yunani dan kepulauan Ionia. Ini membuat Paus Paulus V (1566-1572) menyatukan Eropa yang dilanda perang antar agama-sesama Kristen, yakni Protestan dan Katolik. Konflik ini berakhir setelah adanya Konferensi Westafalia (1667). Saat itu, penaklukan khilafah terhenti. Memang setelah kalahnya khilafah atas Eropa dalam perang Lepanto (1571), khilafah hanya mempertahankan wilayahnya. Ini dimanfaatkan Austria dan Venezia untuk memukul khilafah. Pada Perjanjian Carlowitz (1699), wilayah Hongaria, Slovenia, Kroasia, Hemenietz, Padolia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmatia lepas; masing-masing ke tangan Venezia dan Habsburg. Malah khilafah harus kehilangan wilayahnya di Eropa pada Perang Krim (abad ke-19), dan tambah tragis setelah Perjanjian San Stefano (1878) dan Berlin (1887).
Menghadapi kemerosotan itu, khilafah telah melakukan reformasi (abad ke-17, dst). Namun lemahnya pemahaman Islam membuat reformasi gagal. Sebab saat itu khilafah tak bisa membedakan IPTek dengan peradaban dan pemikiran. Ini membuat munculnya struktur baru dalam negara, yakni perdana menteri, yang tak dikenal sejarah Islam kecuali setelah terpengaruh demokrasi Barat yang mulai merasuk ke tubuh khilafah. Saat itu, penguasa dan syaikhul Islam mulai terbuka terhadap demokrasi lewat fatwa syaikhul Islam yang kontroversi. Malah, setelah terbentuk Dewan Tanzimat (1839 M) semakin kokohlah pemikiran Barat, setelah disusunnya beberapa UU, seperti UU Acara Pidana (1840), dan UU Dagang (1850), tambah rumusan Konstitusi 1876 oleh Gerakan Turki Muda, yang berusaha membatasi fungsi dan kewenangan kholifah.
2.1.1.3  Konspirasi Menghancurkan Khilafah
Di dalam negara, ahlu dzimmah-khususnya orang Kristen-yang mendapat hak istimewa zaman Suleiman II, akhirnya menuntut persamaan hak dengan muslimin. Malahan hak istimewa ini dimanfaatkan untuk melindungi provokator dan intel asing dengan jaminan perjanjian antara khilafah dengan Bizantium (1521), Prancis (1535), dan Inggris (1580). Dengan hak istimewa ini, jumlah orang Kristen dan Yahudi meningkat di dalam negeri. Ini dimanfaatkan misionaris-yang mulai menjalankan gerakan sejak abad ke-16. Malta dipilih sebagai pusat gerakannya. Dari sana mereka menyusup ke Suriah(1620) dan tinggal di sana sampai 1773. Di tengah mundurnya intelektualitas Dunia Islam, mereka mendirikan pusat kajian sebagai kedok gerakannya. Pusat kajian ini kebanyakan milik Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat, yang digunakan Barat untuk mengemban kepemimpinan intelektualnya di Dunia Islam, disertai serangan mereka terhadap pemikiran Islam. Serangan ini sudah lama dipersiapkan orientalis Barat, yang mendirikan Pusat Kajian Ketimuran sejak abad ke-14.
Gerakan misionaris dan orientalis itu merupakan bagian tak terpisahkan dari imperialisme Barat di Dunia Islam. Untuk menguasainya - meminjam istilah Imam al-Ghozali - Islam sebagai asas harus hancur, dan khilafah Islam harus runtuh. Untuk meraih tujuan pertama, serangan misionaris dan orientalis diarahkan untuk menyerang pemikiran Islam; sedangkan untuk meraih tujuan kedua, mereka hembuskan nasionalisme dan memberi stigma pada khilafah sebagai Orang Sakit. Agar kekuatan khilafah lumpuh, sehingga agar bisa sekali pukul jatuh, maka dilakukanlah upaya intensif untuk memisahkan Arab dengan lainnya dari khilafah. Dari sinilah, lahir gerakan patriotisme dan nasionalisme di Dunia Islam. Malah, gerakan keagamaan tak luput dari serangan, seperti Gerakan Wahabi di Hijaz. Sejak pertengahan abad ke-18 gerakan ini dimanfaatkan Inggris - melalui agennya Ibn Sa'ud - untuk menyulut pemberontakan di beberapa wilayah Hijaz dsk, yang sebelumnya gagal dilakukan Inggris lewat gerakan kesukuan. Walau begitu, akhirnya gerakan ini bisa dibendung di beberapa wilayah oleh khilafah lewat Mehmed Ali Pasha, Gubernur Mesir yang-ternyata agen Prancis-didukung Prancis. Di Eropa, wilayah yang dikuasai khilafah diprovokasi agar memberontak (abad 19-20), seperti kasus Serbia, Yunani, Bulgaria, Armenia dan terakhir Krisis Balkan, sehingga khilafah Turki Utsmani kehilangan banyak wilayahnya, dan yang tersisa hanya Turki.
Nasionalisme dan separatisme telah dipropagandakan negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Rusia. Itu bertujuan untuk menghancurkan khilafah Islam. Keberhasilannya memakai sentimen kebangsaan dan separatisme di Serbia, Hongaria, Bulgaria, dan Yunani mendorongnya memakai cara sama di seluruh wilayah khilafah. Hanya saja, usaha ini lebih difokuskan di Arab dan Turki. Sementara itu, KeduBes Inggris dan Prancis di Istambul dan daerah-daerah basis khilafah-seperti Baghdad, Damsyik, Beirut, Kairo, dan Jeddah-telah menjadi pengendalinya. Untuk menyukseskan misinya, dibangunlah 2 markas. Pertama, Markas Beirut, yang bertugas memainkan peranan jangka panjang, yakni mengubah putra-putri umat Islam menjadi kafir dan mengubah sistem Islam jadi sistem kufur. Kedua, Markas Istambul, bertugas memainkan peranan jangka pendek, yaitu memukul telak khilafah.
KeduBes negara Eropapun mulai aktif menjalin hubungan dengan orang Arab. Di Kairo dibentuk Partai Desentralisasi yang diketuai Rofiqul 'Adzim. Di Beirut, Komite Reformasi dan Forum Literal dibentuk. Inggris dan Prancis mulai menyusup ke tengah orang Arab yang memperjuangkan nasionalisme. Pada 8 Juni 1913, para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab. Dokumen yang ditemukan di Konsulat Prancis Damsyik telah membongkar rencana pengkhianatan kepada khilafah yang didukung Inggris dan Prancis.
Di Markas Istambul, negara-negara Eropa tak hanya puas merusak putra-putri umat Islam di sekolah dan universitas lewat propaganda. Mereka ingin memukul khilafah dari dekat secara telak. Caranya ialah mengubah sistem pemerintahan dan hukum Islam dengan sistem pemerintahan Barat dan hukum kufur. Kampanye mulai dilakukan Rasyid Pasha, MenLu zaman Sultan Abdul Mejid II (1839). Tahun itu juga, Naskah Terhormat(Kholkhonah)-yang dijiplak dari UU di Eropa-diperkenalkan. Tahun 1855, negara-negara Eropa-khususnya Inggris-memaksa khilafah Utsmani mengamandemen UUD, sehingga dikeluarkanlah Naskah Hemayun (11 Februari 1855). Midhat Pasha, salah satu anggota Kebatinan Bebas diangkat jadi perdana menteri (1 September 1876). Ia membentuk panitia Ad Hoc menyusun UUD menurut Konstitusi Belgia. Inilah yang dikenal dengan Konstitusi 1876. Namun, konstitusi ini ditolak Sultan Abdul Hamid II dan Sublime Port-pun enggan melaksanakannya karena dinilai bertentangan dengan syari'at. Midhat Pashapun dipecat dari kedudukan perdana menteri. Turki Muda yang berpusat di Salonika-pusat komunitas Yahudi Dunamah-memberontak (1908). Kholifah dipaksanya-yang menjalankan keputusan Konferensi Berlin-mengumumkan UUD yang diumumkan Turki Muda di Salonika, lalu dibukukanlah parlemen yang pertama dalam khilafah Turki Utsmani (17 November 1908). Bekerja sama dengan syaikhul Islam, Sultan Abdul Hamid II dipecat dari jabatannya, dan dibuang ke Salonika. Sejak itu sistem pemerintahan Islam berakhir.
Tampaknya Inggris belum puas menghancurkan khilafah Turki Utsmani secara total. Perang Dunia I (1914) dimanfaatkan Inggris menyerang Istambul dan menduduki Gallipoli. Dari sinilah kampanye Dardanella yang terkenal itu mulai dilancarkan. Pendudukan Inggris di kawasan ini juga dimanfaatkan untuk mendongkrak popularitas Mustafa Kemal Pasha-yang sengaja dimunculkan sebagai pahlawan pada Perang Ana Forta (1915). Ia-agen Inggris, keturunan Yahudi Dunamah dari Salonika-melakukan agenda Inggris, yakni melakukan revolusi kufur untuk menghancurkan khilafah Islam. Ia menyelenggarakan Kongres Nasional di Sivas dan menelurkan Deklarasi Sivas (1919 M), yang mencetuskan Turki merdeka dan negeri Islam lainnya dari penjajah, sekaligus melepaskannya dari wilayah Turki Utsmani. Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan lain-lain mendeklarasikan konsensus kebangsaan sehingga merdeka. Saat itu sentimen kebangsaan tambah kental dengan lahirnya Pan-Turkisme dan Pan Arabisme; masing-masing menuntut kemerdekaan dan hak menentukan nasib sendiri atas nama bangsanya, bukan atas nama umat Islam.
2.1.1.4  Runtuhnya Khilafah Turki Utsmani
Sejak tahun 1920, Mustafa Kemal Pasha menjadikan Ankara sebagai pusat aktivitas politiknya. Setelah menguasai Istambul, Inggris menciptakan kevakuman politik, dengan menawan banyak pejabat negara dan menutup kantor-kantor dengan paksa sehingga bantuan kholifah dan pemerintahannya mandeg. Instabilitas terjadi di dalam negeri, sementara opini umum menyudutkan kholifah dan memihak kaum nasionalis. Situasi ini dimanfaatkan Mustafa Kemal Pasha untuk membentuk Dewan Perwakilan Nasional - dan ia menobatkan diri sebagai ketuanya - sehingga ada 2 pemerintahan; pemerintahan khilafah di Istambul dan pemerintahan Dewan Perwakilan Nasional di Ankara. Walau kedudukannya tambah kuat, Mustafa Kemal Pasha tetap tak berani membubarkan khilafah. Dewan Perwakilan Nasional hanya mengusulkan konsep yang memisahkan khilafah dengan pemerintahan. Namun, setelah perdebatan panjang di Dewan Perwakilan Nasional, konsep ini ditolak. Pengusulnyapun mencari alasan membubarkan Dewan Perwakilan Nasional dengan melibatkannya dalam berbagai kasus pertumpahan darah. Setelah memuncaknya krisis, Dewan Perwakilan Nasional ini diusulkan agar mengangkat Mustafa Kemal Pasha sebagai ketua parlemen, yang diharap bisa menyelesaikan kondisi kritis ini.
Setelah resmi dipilih jadi ketua parlemen, Pasha mengumumkan kebijakannya, yaitu mengubah sistem khilafah dengan republik yang dipimpin seorang presiden yang dipilih lewat Pemilu. Tanggal 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki. Namun ambisinya untuk membubarkan khilafah yang telah terkorupsi terintangi. Ia dianggap murtad, dan rakyat mendukung Sultan Abdul Mejid II, serta berusaha mengembalikan kekuasaannya. Ancaman ini tak menyurutkan langkah Mustafa Kemal Pasha. Malahan, ia menyerang balik dengan taktik politik dan pemikirannya yang menyebut bahwa penentang sistem republik ialah pengkhianat bangsa dan ia melakukan teror untuk mempertahankan sistem pemerintahannya. Kholifah digambarkan sebagai sekutu asing yang harus dienyahkan.
Setelah suasana negara kondusif, Mustafa Kemal Pasha mengadakan sidang Dewan Perwakilan Nasional. Tepat 3 Maret 1924 M, ia memecat kholifah, membubarkan sistem khilafah, dan menghapuskan sistem Islam dari negara. Hal ini dianggap sebagai titik klimaks revolusi Mustafa Kemal Pasha.

2.1.2  Kerajaan Mogul di India
Sekilas Wajah Peradaban Islam di India Kemunduran kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, tidak memungkinkan Islam menaklukkan seluruh daratan Asia, khususnya China dan Mongolia. Sebaliknya, dengan kegagahan yang mengalir dalam darah Mongol mampu meluluhlantakkan Baghdad. Ternyata, dengan penyerangan inilah, Islam masuk ke jiwa-jiwa pemberani tersebut. Banyak pembesar kerajaan Mongol yang memeluk agama Islam.
2.1.2.1  Sejarah Awal dan Masa Kejayaan
Dinasti Changtai (1227-1369 M) yang didirikan oleh putra Jengis Khan, Changtai, merupakan cikal bakal Kerajaan Mughal di India. Karena Babur adalah keturunan Raja Changtai. Dinasti Ilkhan (1256-1335 M) yang didirikan oleh cucu Jengis Khan, Raja ke-7, Ghazan, juga seorang Muslim dan pada masanya, Ilkhan mencapai kejayaan. Kemaharajan Mughal, (Mughal Baadshah atau sebutan lainnya Mogul ) adalah sebuah kerajaan yang pada masa jayanya memerintah Afghanistan, Balochistan, dan kebanyakan anak benua India antara 1526 dan 1858 M. Kerajaan ini didirikan oleh keturunan Mongol, Babur, pada 1526 . Kata mughal adalah versi Indo-Aryan dari Mongol . Dinasti Mughal berdiri tegak selama kurang lebih tiga abad (1526–1858 M) di India. Dalam kurun waktu tersebut, Islam telah memberi warna tersendiri di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas memeluk agama Hindu. Hingga kini, gaung kebesaran Islam warisan Dinasti Mughal memang sudah tidak terdengar lagi. Tetapi, lahirnya Negara Islam Pakistan tidak terlepas dari perkembangan Islam pada masa dinasti tersebut.
Sisa-sisa kejayaan Dinasti Mughal dapat dilihat dari bangunan-bangunan bersejarah yang masih bertahan hingga sekarang. Misalnya Taj Mahal di Agra, makam megah yang dibangun pada masa Syah Jahan untuk mengenang permaisurinya, Mumtaz Mahal, adalah saksi bisu kemajuan arsitektur Islam pada masa dinasti ini. Bangunan indah yang termasuk “tujuh keajaiban dunia” ini memang sudah usang, lusuh, dan tidak terawat. Namun, kemegahan dan keindahannya menjadi bukti sejarah akan kokohnya peradaban Islam di India pada waktu itu. Kehidupan seperti roda berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Demikian halnya Dinasti Islam Mughal di India. Sebagaimana dinasti-dinasti Islam lainnya, dinasti ini pun mengalami siklus: berdiri, berkembang, mencapai puncak, mengalami kemunduran, lalu hancur. Itulah siklus peradaban seperti yang dikemukakan Ibnu Khaldun, sejarawan Muslim terkemuka melalui teori Ashabiyah-nya.
Pemerintahan Kemaharajaan Mughal didirikan oleh Zahirudin Babur pada 1526 M. Babur merupakan cucu Timur Lenk dari pihak ayah dan cucu Jenghiz Khan dari pihak ibu. Kerajaan ini dimulai ketika dia mengalahkan Ibrahim Lodi, Sultan Delhi terakhir pada pertempuran pertama Panipat dengan bantuan Gubernur Lahore. Ia menguasai Punjab dan meneruskan ke Delhi yang dijadikan ibukota kerajaan. Penguasa setelah Babur adalah putranya sendiri, Nashirudin Humayun (1530-1556 M) di masa ini kondisi kerajaan tidak stabil, karna banyak perlawanan dari musuh-musuhnya. Pada 1540 terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Sher Khan dari Qanauj mengakibatkan Humayun melarikan diri ke Persia. Atas bantuan Raja Persia (Safawiyah), Humayun kembali merebut Delhi tahun 1555 M.
Puncak kejayaan kerajaan Mughal terjadi pada masa pemerintahan Putra Humayun, Akbar Khan (1556-1605 M). Sistem Pemerintahan Akbar adalah militeristik. Akbar berhasil memperluas wilayah sampai Kashmir dan Gujarat. Pejabatnya diwajibkan mengikuti latihan militer. Politik Akbar yang sangat terkenal dan berhasil menyatukan rakyatnya adalah Sulhul Kull atau toleransi universal, yang memandang sama semua derajat. Akbar menciptakan Din Ilahi, yang menjadikan semua agama menjadi satu demi stabilitas antara Hindu dan Islam. Akbar mengawini putri pemuka Hindu dan melarang memakan daging sapi.
2.1.2.2  Keadaan Politik Menjelang Keruntuhan
Penguasa keempat adalah Jahangir (1605-1628 M), putra Akbar. Jahangir adalah penganut Ahlusunah wal jamaah, sehingga apa yang ayahnya ciptakan menjadi hilang pengaruhnya. Dari itu muncul berbagai pemberontakan, terutama oleh putranya sendiri, Kurram. Kurram berhasil menangkap ayahnya, tapi berkat permaisuri kerajaan, permusuhan antara ayah dan anak ini bisa dipadamkan.
Setelah Jahangir meninggal, Kurram naik tahta setelah mengalahkan saudaranya, Asaf Khan. Kurram bergelar Shah Jahan (1627-1658 M) . Masa ini banyak terjadi pemberontakan, terutama dari kalangan keluarga kerajaan. Aurangzeb, panglima dan juga putra ketiga Shah Jahan berhasil memadamkan pemberontakan dari keturunan Lodi. Keberhasilan Aurangzeb membuat saudara tertuanya, Dara, merasa iri dan menuduh ingin merebut tahta kerajaan. Namun ketangguhan Aurangzeb berhasil mengalahkan saudaranya sekaligus menangkap ayahnya, Shah Jahan. Hal ini pernah dilakukan sendiri oleh Shah Jahan terhadap kakek Aurangzeb, Jahangir. Aurangzeb, (1658-1707 M) menggantikan ayahnya, Shah Jahan. Kebijakan Aurangzeb sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh para pendahulunya terutama buyutnya, Akbar Khan. Ia melarang berjudi, minuman keras, upacara sati, serta membolehkan pengrusakan kuil-kuil Hindu. Kebijakan ini menimbulkan banyak pemberontakan terutama dari kalangan Hindu. Namun karena kekuatan pasukan Aurangzeb, semua pemberontakan dapat dipadamkan.
Kebesaran namanya sejajar dengan kebesaran nama buyutnya, Akbar Khan. Meski pemberontakan bisa dipadamkan oleh Aurangzeb, namun setelah kematian Aurangzeb, banyak propinsi yang memisahkan diri. Kerajaan ini mulai mengalami kemunduran, meskipun tetap berkuasa selama 150 tahun berikutnya. Penguasa setelahnya antara lain: Bahadur Syah (1707-1712 M), Jhandar Syah 1713, Azim Syah 1713, Faruk Syiyar 1719, Muhammad Syah 1749, Ahmad Syah 1754, Alamgir 1759, Syah Alam 1806, Akbar II dan raja terakhir Bahadur Syah II 1858.
2.1.2.3  Keruntuhan Kerajaan Mogal di India
Peradaban Kemaharajaan Mughal Di bidang politik, Sulhul Kull berhasil menyatukan rakyat Islam, Hindu, dan penganut lainnya. Di bidang militer, pasukan Mughal dikenal dengan pasukan yang kuat. Terdiri dari pasukan gajah, berkuda, dan meriam. Wilayahnya dibagi menjadi distrik-distrik yang dikepalai oleh Sipah Salar. Di bidang ekonomi, memajukan pertanian. Terdiri dari padi, kacang, tebu, kapas, tembakau, dan rempah-rempah. Pemerintah membentuk sebuah lembaga yang mengurusi hasil pertanian serta hubungan dengan para petani. Industri tenun juga banyak diekspor ke Eropa, Asia Tenggara dan lain-lain. Masa Jahangir, investor diizinkan menanamkan investasinya, seperti mendirikan pabrik. Di bidang seni, Jahangir merupakan salah satu pelukis terhebat. Kemaharajaan Mughal juga terkenal dengan ukiran dan marmer yang timbul dengan kombinasi warna-warni. Diantara bangunan yang terkenal: benteng merah, makam kerajaan, masjid Delhi, dan yang paling popular adalah Taj Mahal di Aghra. Istana ini merupakan salah satu keajaiban dunia yang dibangun oleh Syah Jahan untuk mengenang permaisurinya, Noor Mumtaz Mahal yang cantik jelita.
Di bidang sastra, banyak sastra dari bahasa Persia diubah ke bahasa India. Bahasa Urdu yang berkembang di masa Akbar, menjadi bahasa yang banyak dipakai oleh rakyat India dan Pakistan sampai sekarang. Di bidang ilmu pengetahuan, Syah Jahan mendirikan perguruan tinggi di Delhi. Aurangzeb mendirikan pusat pendidikan di Lucknow. Tiap masjid mempunyai lembaga tingkat dasar yang dipimpin oleh seorang guru. Sejak berdiri banyak ilmuan yang belajar di India. Pelajaran dari Kemaharajaan Mughal Salah satu Ketidakharmonisan hubungan kekeluargaan, antara ayah dan anak, adik dan kakak menjadi salah satu faktor lemahnya kemaharajaan Mughal dari dalam, hal ini telah terjadi pada beberapa Dinasti Islam sebelumnya. Dalam penggalan sejarah Dinasti Mughal, tampil dua penguasa paling berpengaruh: Akbar Khan dan Aurangzeb. Meskipun keduanya memerintah dalam dekade yang berbeda, tetapi kebijakan Akbar Khan dan Aurangzeb, khususnya berkaitan dengan pengembangan Islam di India, memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Akbar mengembangkan pola Islam sinkretis. Sebaliknya, Aurangzeb mengembangkan pola Islam puritan.
Dalam perspektif politik, langkah Akbar ini dianggap sah, bahkan cerdas. Sebab, substansi politik adalah tercapainya tujuan, meskipun pada saat bersamaan terdapat aspek-aspek tertentu yang terabaikan. Orang boleh melakukan apa saja dalam konteks politik. Akbar telah memposisikan Islam tidak lebih dari sekedar simbol formal tanpa makna. Karena itu, dia dengan mudah meleburkan dan mencampuradukkan Islam dengan berbagai kepercayaan lain. Dalam situasi ini, Islam kehilangan identitasnya. Ketinggian dan keluhuran ajaran Islam juga tereduksi sedemikian rupa. Hal ini menyebabkan ketegangan dengan para penganut Ahlusunah wal jamaah.
Lain dengan Akbar Khan, lain pula dengan Aurangzeb. Wajah Islam di India pada masa Aurangzeb tampak lebih dominan. Dia berusaha mengangkat kembali citra Islam yang tampak “redup” beberapa dasawarsa sebelumnya. Ia giat mengembalikan kemurnian Islam. Usaha ini patut dihargai. Sebab, dari sini terlihat kecintaan seorang Aurangzeb terhadap Islam. Namun, perlu diingat, Islam adalah agama yang mensponsori perdamaian, tanpa paksaan, dan tidak mentolelir berbagai tindak kekerasan terhadap pemeluk agama lain. Memurnikan ajaran Islam dengan merusak tempat ibadah agama lain, bukanlah pesan Islam.
Kebijakan Aurangzeb untuk menghancurkan kuil-kuil Hindu, meletakkan arca di jalan-jalan agar selalu diinjak tampaknya menjadi sebuah kekeliruan. Hal ini menyebabkan terjadinya pemberontakan hebat dari kalangan Hindu. Pada 1739 M. Mughal dikalahkan oleh pasukan dari Persia dipimpin oleh Nadir Shah. Pada 1756 M. pasukan Ahmad Shah merampok Delhi lagi. Kerajaan Britania yang masuk ke India pada 1600 M. dan mulai melakukan penaklukkan terhadap kerajaan Mughal pada 1757 M. serta membubarkannya tahun 1858 M. setelah mengalahkan pesaingnya, Perancis.

2.1.3  Kerajaan Safawi di Persia (sekarang Iran)
Kerajaan Safawi di Persia berdiri ketika kerajaan Usmani sudah mencapai puncak kemajuannya, Kerajaan ini berkembang sangat cepat. Berbeda dari dua kerajaan besar Islam lainnya (Usmani dan Mughal), Kerajaan Safawi menyatakan Syi’ah sebagai madzhab Negara. Karena itu, kerajaan ini di anggap sebagai peletak pertama dasar terbentuknya Negara Iran dewasa ini. Kerajaan Safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama Tarekat Safawiyah. Nama Safawiyah di ambil dari nama pendirinya Safi al-Din (1252-1334 M), dan nama safawi itu terus dipertahankan sampai Tarekat ini menjadi gerakan politik.
Safi al-Din berasal dari keturunan orang yang berada dan memilih sufi sebagai jalan hidupnya. Ia keturunan dari Imam Syiah yang keenam Musa al-Khazim. Gurunya bernama Syekh Taj al-Din Ibrahim Zahidi (1216-1301 M) yang di kenal dengan julukan Zahid al-Gilani.
Safi al-Din mendirikan tarekat Safawiyah setelah ia menggantikan guru dan sekaligus mertuanya yang wafat tahun 1301 M. Pengikut tarekat ini sangat teguh memegang ajaran agama. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah bertujuan memerangi orang-orang ingkar, kemudian memerangi golongan yang mereka sebut ahli-ahli bidah. Setelah ia mengubah bentuk tarekat itu dari pengajian tasawuf murni yang bersifat lokal menjadi gerakan keagamaan yang besar pengaruhnya di Persia, Syiria,dan Anatolia. Di negeri-negeri diluar Ardabil Safi al-Din menempatkan seorang wakil yang memimpin murid-muridnya. Wakil itu diberi gelar khalifah.
Suatu ajaran agama yang dipegang secara fanatic biasanya kerap kali menimbulkan keinginan di kalangan penganut ajaran itu untuk berkuasa. Karena itu, lama kelamaan murid-murid tarekat Safawiyah berubah menjadi tentara yang teratur, fanatic dalam kepercayaan dan menentang setiap orang yang bermahzab selain Syi’ah.
Kecenderungan memasuku dunia politik iu mendaapat wujud kongkritnya pada masa kepemimpinan Juneid (1447-1460 M). dinasti Safawi memperluas geraknya dengan menambah kegiatan keagamaan. Perluasan kegiatan ini menimbulkan konflik antara Juneid dengan penguasa Kara Koyunlu (domba hitam), Ia tinggal di istana Uzun Hasan yang ketika itu menguasai sebagian besar Persia.
Selama dalam pengasingan, Juneid tidak tinggal diam. Ia malah dapat menghimpun kekuatan untuk kemudian beraliansi secara politik dengan Uzun Hasan. Pada tahun 1459 M Juneid mencoba merebut Ardabil tetepi gagal. Pada tahun 1460 M ia mencoba merebut Sircasia tetapi pasukan yang di pimpinnya di hadang oleh tentara Sirwan. Ia sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut.
Ketika itu anak Juned Haidar masih kecil dan dalam asuhan Uzun Hasan.Karena itu,Kpemimpinan gerakan Safawi baru bisa diserahkan kepadanya secara resmi pada tahun 1470 M.Hubungan Haidar dengan Uzun Hasan semakin erat setelah Haidar mengawini salah seorang putri Uzun Hasan. Dari perkawinan ini lahir Ismail yang kemudian hari menjadi pendiri kerajaan Safawi di Persia.
Kemenangan AK Konyulu tahun 1476 M terhadap Kara Koyunlu membuet gerakan militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival politik oleh AK Konyulu dalam meraih kekuasaan selanjutnya.AK Konyulu berusaha melenyapkan kekuatan militer dan kekuasaan Dinasti Safawi. Karena itu, ketika Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasukan Sirwan, AK Koyunlu mengirimkan bantuan militer kepada Sirwan, sehingga pasukan Haidar kalah dan Haidar sendiri terbunuh dalam peperangan itu.
Ali putra dan pengganti Haidar didesak oleh bala tentaranya untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, terutama terhadap AK Koyunlu. Tetapi Ya’kub pemimpin AK Koyunlu dapat menangkap dan memenjarakan Ali bersama saudaranya, Ibrahim dan Ismail, dan ibunya, di fars selama empat setamgah tahun (1489-1493 M). Mereka di bebaskan oleh Rustam, putera mahkota AK Koyunlu, dengan syarat mau membantunya memerangi saudara sepupunya. Akan tetapi, tidak lama kemudian Rustan berbalik memusuhi dan menyerang Ali bersaudara, dan Ali terbunuh dalam serangan ini (1494 M).
Kepemimpinan gerakan Safawi selanjutnya berada di tangan Ismail, yang saat itu masih berusia tujuh tahun. Selama lima tahun Ismail besrta pasukanya bermarkas di Gilan, mempersiapkan kekuatan dan mengadakan hubungan dengan para pengikutnya di Azerbaijan, Syria, dan Anatolia. Pasukan yang dipersiapkan itu dinamai Qizilbash (baret merah).
Dibawah pimpinan Ismail, pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash menyerang dan mengalahkan AK Koyunlu di Shahrur, dekat Nakhchivan. Ismail berkuasa selama lebih kurang 23 tahun, yaitu antara tahun 1501 dan 1524 M. Pada sepuluh tahun pertama ia berhasil memperluas wilayah kekuasaanya. Ia dapat menghancurkan sisa kekuatan AK Koyunlu di Hamadan (1510 M), menguasai Proponsi Kaspia di Nazandaran, gurgan, dan Yazd (1504 M), Diyar Bakr, (1505-1507 M) Baghdad dan daerah barat daya Persia,(1508 M), Sirwan (1509 M), dan Khurasan (1510 M). Hanya dalam waktu itu wilayah kekuasaanya sudah meliputi seluruh Persia dan baguan timur Bulan Sabit Subur (Fortile Crescent).
Tidak sampai disitu, anbisi politik mendorongnya untuk terus mengembangkan sayap menguasai daerah-daerah lainya, seperti ke Turki Usmani.Peperangan denagn Turki Usmani terjadi pada tahun 1514 M di Chaldiran, dekat Tabriz. Dalam peperangan ini Ismail I mengalami kekalahan, malah Turki Usmani di bawah pimpinan Sultan Salim dapat menduduki Tabriz. Kekalahan tersebut meruntuhkan kebanggaan dan kepercayaan diri Ismail ke Turki I berubah. Ia lebih senang menyendiri, menempuh kehidupan hura-hura dan berburu.
Rasa permusuhan dengan kerajaan Usmani terus berlangsung sepeninggal Ismail. Peperangan-peperangn antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada zaman penerintahan Tahmasp I (1524-1576 M), Ismail II )1576-1577 M), dan Muhammad Khudabanda (1577-1587 M). Pada masa tiga raja tersebut kerajaan Safawi dalam keadaan lemah.
Kondisi memprihatinkan ini baru dapat diatasi setelah raja Safawi kelima, Abbas I naik tahta. Ia memerintah dari tahun 1588 sampai dengan 1628 M. Langkah-langkah yang di tempuh oleh Abbas I:Pertama, berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash atas kerajaan Safawi dengan cara membentuk pasukan baru yang anggotanya terdiri dari budak-budak, berasal dari tawanan perang bangsa Georgia,Armenia,Sircassia yang telah ada sejak raja tahmasp I. Kedua, mengadakan perjanjian damai dengan turki usmani. Untuk mewujudkan perjanjian ini Abbas I terpaksa harus menyerahkan wilayah Azerbaizan, Georgia, dan sebagian wilayah Luristan.
Usaha – usaha yang dilakukan Abbas I tersebut berhasil membuat kerajaan safawi kuat kembali. Pada tahun 1598 M ia menyerang dan menaklukkan Heart. Dari sana ia melanjutkan serangan merebut Marw dan Balkh. Setelah kekuatan terbina dengan baik, ia juga berusaha mendapatkan kembali wilayah kekuasaanya dari turki usmani. Rasa permusuhan antara dua kerajaan yang berbeda aliran agama ini memang tidak pernah padam sama sekali. Pada tahun 1602 M, di saat Turki Usmani berada dibawah Sultan Muhammad III, Pasukan Abbas I menyerang dan berhasil menguasai Tabriz, Sirwan, dan Bagdad. Selanjutnya, pada tahun 1622 M pasukan Abbas I berhasil merebut kepulauan Hurmuz dan mengubah pelabuhan Gumrun menjadi pelabuhan Bandar Abbas.
Masa Kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan safawi. Kemajuan yang dicapai kerajaan Safawi tidak hanya terbatas di bidang politik. Di bidang yang lain, kerajaan ini juga mengalami banyak kemajuan. Kemajuan – kemajuan itu antara lain adalah sebagai berikut :
2.1.3.1  Bidang Ilmu Pengetahuan
Stabilitas politik Kerajaan Safawi pada masa Abbas I ternyata telah memacu perkembangan perekonomian Safawi, lebih-lebih setelah kepulauan Hurnuz dikuasai dan pelabuhan Gunrun diubah nenjadi Bandar Abbas. Dengan dikuasainya Bandar ini maka salah satu jalur dagang laut antara Timur dan Barat yang biasa di perebutkan oleh Belanda, Inggris, dan Perancis sepenuhnya menjadi miliik kerajaan Safawi.
Di samping itu sektor perdagangan, kerajaan Safawi juga mengalami kemajuan di sektor pertanian terutama di daerah Bulan Sabit Subur (Eortile Crescent).
2.1.3.2   Bidang Ilmu Pengetahuan
Dalam sejarah Islam bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan. Ada beberapa ilmuan yang selalu hadir di majlis istana, yaitu Baha al-Din al-Syaerazi, generalis ilmu pengetahuan, Sadar al-Din al-Syaerazi,filosof, dan Muhammad Baqir Ibn Muhammad Damad,filosof, ahli sejarah, teolog dan seorang yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan lebah-lebah.
2.1.3.3  Bidang Pengembangan Fisik dan Seni
Para penguasa kerajaan ini telah berhasil menciptakan Isfahan, ibu kota kerajaan, menjadi kota yang sangat indah. Di kota tersebut berdiri banguna-bangunan besar lagi indah seperti mesjid-mesjid, runah-runah sakit, sekolah-sekolah, jembatan rajsasa di atas Zende Rud, dan istana Chilhil Sutun. Kota Isfahan juga diperindah dengan taman-taman wisata yang ditata secara apik.Ketika Abbas I wafat, di Isfahan terdapat 162 mesjid, 48 akademi, 1802 penginapan, dan 173 pemandian umum.
Di bidang seni, kemajuan nampak begitu kentara dalam gaya arsitektur bangunan-bangunanya, seperti terlihat pada mesjid Shah yang dibangun tahun 1603 M. Unsur seni lainnya terlihat pula dalm bentuk kejinan tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian dan tenunan, mode, tembikar, dan benda seni lainya.Seni lukis mulai dirintis sejak zaman Tahmasp I. Raja Ismail pada tahun 1522 M membawa soreng pelukis timur ke Tabriz. Pelukis itu bernama Bizhab.
2.1.3.4  Kemunduran kerajaan Safawi
Kemunduran kerajaan Safawi adalah sepeninggal Abbas I, berturut-turut di perintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman (1667-1694 M), Husain (1694-1722 M), Tahmasp II (1722-1732 M), dan Abbas III (1733-1736 M). Pada masa raja-raja tersebut kindisi kerajaan tidak menunjukan grafik naik dan berkembang, tetapi justru memperlihatkan kemunduran yang akhirnya membawa kepada kehancuran.
Diantara sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi ialah konflik berkepanjangan dengan kerajaan Usmani. Bagi Kerajaan Usmani berdirinya Kerajaan Safawi yang beraliramn Syi’ah merupakan ancaman langsung terhadap wilayah kekuasaan. Konflik antara dua kerajaan tersebut berlangsung lama, meskipun pernah berhenti sejenak ketika tercapai perdamaian pada masa Shah Abbas I. Namun tidak lama kemudian Abbas meneruskan konflik tersebut, dan setelah itu dapat dikatakan tidak ada laigi kedamaian antara dua kerajaan besar Islam itu.
Penyebab lainya adalah dekadensi moralyang melanda sebagian para pepimpin kerajaan Safawi. Ini turut mempercepat proses kehancuran kerajaan tersebut. Sulaiman, di samping itu pecandu berat narkotika, juga menyenangi kehidupan malam beserta harem-haremnya selama tujuh tahun tanpa sekalipun menyempatkan diri menengani pemerintahan. Begitu jug Sultan Husein.
Penyebab penting lainya adalah karena pasukan ghulam(budak-budak) yang di bentuk oleh Abbas I tidak memiliki semangat perang yang tinggi seperti Qizilbash. Hal ini disebabkan karena pasukan tersebut tidak disiapkan secara terlatih dan tidak melalui proses yang dialami Qizilbash. Sementara itu, anggota Qizilbash yang baru ternyata tidak memiliki militansi dan semangat yang sama dengan anggota Qizilbash sebelumnya.
Tidak kalah penting dari sebab-sebab diatas adalah seringnya terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana.

2.2  Perkembangan Ajaran Islam pada Abad Pertengahan
Banyak pemuda Eropa yang belajar di universitas-unniversitas Islam di Spanyol seprti Cordoba, Sevilla, Malaca, Granada dan Salamanca. Selama belajar di universitas- universitas tersebut, mereka aktif menterjemahkan buku-buku karya ilmuwan muslim. Pusat penerjemahan itu adalah Toledo. Setelah mereka pulang ke negerinya, mereka mendirikan sekolah dan universitas yang sama. Universitas yang pertama kali berada di Eropa ialah Universitas Paris yang didirikan pada tahun 1213 M dan pada akhir zaman pertengahan di Eropa baru berdiri 18 universitas. Pada universitas tersebut diajarkan ilmu- ilmu yang mereka peroleh dari universitas Islam seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti dan ilmu filsafat.
Banyak gambaran berkembangnya Eropa pada saat berada dalam kekuasaan Islam, baik dalam bidang ilmu pengetahuan, tekhnologi, kebudayaan, ekonomi maupun politik. Hal-hal tersebut antara lain sebagai berikut :
1.      Seorang sarjana Eropa, Petrus Alfonsi (1062 M) belajar ilmu kedokteran pada salah satu fakultas kedokteran di Spanyol dan ketika kembali ke negerinya Inggris ia diangkat menjadi dokter pribadi oleh Raja Henry I (1120 M). Selain menjadi dokter, ia bekerja sama dengan Walcher menyusun mata pelajaran ilmu falak berdasarkan pengetahuan sarjan dan ilmuwan muslim yang didapatnya dari spanyol. Demikin juga dengan Adelard of Bath (1079-1192 M) yang pernah belajar pula di Toledo dan setelah ia kembali ke Inggris, ia pun menjadi seorang sarjan yang termasyhur di negaranya.
2.      Cordoba mempunyai perpustakaan yang berisi 400.000 buku dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan.
3.      Seorang pendeta kristen Roma dari Inggris bernama Roger Bacon (1214-1292 M) mempelajari bahasa Arab di Paris (1240-1268 M). Melalui kemampuan bahasa Arab dan bahasa latin yang dimilikinya, ia dapat membaca nasakah asli dan menterjemahkannya ke dalam berbagai ilmu pengetahuan, terutama ilmu pasti. Buku-buku asli dan terjemahan tersebut dibawanya ke Universitas Oxford Inggris. Sayangnya, penerjemahan tersebut di akui sebagai karyanya tanpa menyebut pengarang aslinya. Diantara bukuyang diterjemahkan antara lain adalah Al Manzir karya Ali Al Hasan Ibnu Haitam (965-1038 M). Dalam buku itu terdapat teori tentang mikroskop dan mesiu yang banyak dikatakan sebagai hasil karya Roger Bacon.
4.      Seorang sarjana berkebangsaan Perancis bernama Gerbert d’Aurignac (940-1003 M) dan pengikutnya, Gerard de Cremona (1114-1187 M) yang lahir di Cremona, Lombardea, Italia Utara, pernah tinggal di Toledo, Spanyol. Dengan bantuan sarjana muslim disana , ia berhasil menerjemahkan lebih kurang 92 buah buku ilmiah Islam ke dalam bahasa latin. Di antara karya tersebut adalah Al Amar karya Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria Ar Razi (866-926 M) dan sebuah buku kedokteran karangan Qodim Az Zahrawi serta buku Abu Muhammad Al baitar berisi tentang tumbuhan. Sarjana-sarjana muslim tersebut mengajarkan penduduk non muslim tanpa membeda-bedakan agama yang mereka anut .
5.      Apabila kerajaan-kerajaan non muslim mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam, maka yang terjadi adalah pembumihangusan kebudayaan Islam dan pembantaian kaum muslim. Akan tetapi, apabila kerajaan-kerajaan Islam yang menguasai kerajaan non muslim, maka penduduk negeri tersebut diperlakukan dengan baik. Agama dan kebudayaan merekapun tidak terganggu.
6.      Banyak sarjana-sarjana muslim yang berjasa karena telah meneliti dan mengembangkan ilmu pengetahuan, bahkan karya mereka diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa meskipun ironisnya diakui sebagai karya mereka sendiri.
Akibat atau pengaruh dari perkembangan ilmu pengetahuan Islam ini menimbulkan kajian filsafat Yunani di Eropa secara besar-besaran dan akhirnya menimbulkan gerakan kebangkitan atau renaissans pada abad ke-14. berkembangnya pemikiran yunani ini melalui karya-karya terjemahan berbahasa arab yang kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa latin. Disamping itu, Islam juga membidani gerakan reformasi pada abad ke-16 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan aufklarung atau pencerahan pada abad ke-18 M.
Nasib kaum muslim di Spanyol sepeninggal Abu Abdullah Muhammad dihadapakan pada beberapa pilihan antara lain masuk ke dalam kristen atau meninggalkan spanyol. Bangunan-bangunan bersejarah yang dibangun oleh Islam diruntuhkan dan ribuan muslim mati terbunuh secara tragis. Pada tahun 1609 M, Philip III mengeluarkan undang-undang yang berisi pengusiran muslim secara pakasa dari spanyol. Dengan demikian, lenyaplah Islam dari bumi Andalusia, khusunya Cordoba yang menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan di barat sehingga hanya menjadi kenangan.

2.3  Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Abad Pertengahan
2.3.1   Filsafat Islam
Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang berasal dari kata philo yang berarti cinta dan sofia yang berarti kebijaksanaan atau pengetahuan yang mendalam. Jadi, dilihat dari akar katanya filsafat berarti ingin tahu dengan mendalam atau cinta kepada kebijaksanaan. Adapun pengertian dari segi istilah, yaitu berpikir secara sistematis, radikal, dan universal untuk mengetahui tentang hakikat segala sesuatu yang ada. Dan yang dimaksud dengan filsafat Islam adalah berpikir secara sistematis, radikal dan universal untuk mengetahui tentang hakikat segala sesuatu berdasarkan ajaran Islam (Al-Qur’an dan Al Hadist).
Manfaat dari filsafat Islam, yaitu antara lain sebagai berikut :
a.    Membimbing umat Islam agar mampu berpikir secara sistematis dan Islami terhadap suatu persoalan.
b.   Memperkuat keyakinan umat Islam terhadap kebenaran dan kesucian Islam.
c.    Tokoh filsafat Islam.
d.   Sebagai senjata umat Islam dalam mempertahankan kebenaran dan kesucian Islam.
Diantara para filsuf Islam yang terkenal adalah sebagai berikut:
1.   AI Kindi (805-873 M)
Nama lengkapnya Ya'kub bin Ishak AI Kindi, lahir di Kufah tahun 805 M dan wafat di Bagdad tahun 873 M. AI Kindi termasuk cendekiawan muslim yang produktif. Hasil karyanya meliputi filsafat, logika, astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, politik dan musik, dan matematika. Beliau berpendapat, bahwa filsafat tidak bertentangan dengan agama karena sama-sama membicarakan tentang kebenaran. Beliau juga merupakan satu-satunya filosof Islam dari Arab, maka ia disebut Failasuf Al Arab atau filosof orang Arab.
2.   AI Farabi (872-950 M)    
Nama lengkapnya Abu Nashr Muhammmad Ibnu Tarkhan Ibnu Uzlag AI Farabi, lahir di Farabi Transoxania tahun 872 M dan wafat di Damsyik tahun 950 M. Beliau keturunan Turki. AI Farabi menekuni berbagai bidang ilmu pengetahuan, antara lain: logika, musik, kemiliteran, metafisika, ilmu alam, teologi, dan astronomi. Diantara karya ilmiahnya yang terkenal berjudul Ar Ro'yu Ahlul Madinah AI Fadhilah (pemikiran tentang penduduk negara utama), karena menurut beliau negara terbaik adalah yang dipimpin Rasul kemudian oleh filsuf, dan beliau berpendapat antara agama dan filsafat tidak bertentangan, bahkan sama-sama membawa kebenaran.
3.   Ibnu Sina
Nama lengkapnya Abu Ali AI Husein Ibnu Abdullah Ibnu Sina, lahir di desa Afsyana dekat Bukhara dan wafat dimakamkan di Hamazan. Beliau belajar bahasa Arab, geometri, fisika, logika, ilmu hukum Is­lam, teologi Islam, dan ilmu kedokteran. Pada usia 17 tahun, ia telah tekenal dan dipanggil untuk mengobati Pangeran Samani, Nuh bin Mansyur. Beliau menulis lebih dari 200 buku dan diantara karyanya yang terkenal adalah yang berjudul AI Qanun Fi Thib, yaitu ensiklopedi tentang ilmu kedokteran dan Al syifa, ensiklopedi tentang filsafat dan ilmu pengetahuan.
4.   Al Ghazali (450-505 H)
Nama lengkapnya Abu Hamid AI Ghazali, lahir di desa Gazalah, dekat Tus, Iran Utara pada tahun 450 H dan wafat pada tahun 505 H di Tus juga. Beliau dididik dalam keluarga dan guru yang zuhud (hidup sederhana dan tidak tamak terhadap duniawi). Beliau belajar di Madrasah Imam AI Jawaeni. Setelah beliau menderita sakit, beliau berkhalwat (mengasingkan diri dari khalayak ramai dengan niat beribadah mendekatkan diri kepada Allah SWT) dan kemudian menjalani kehidupan tasawuf sellima 10 tahun di Damaskus, Jerusalem, Mekah, Madinah, dan Tus. Adapun jasa-jasa beliau terhadap umat Islam antara lain sebagai berikut :
1)   Memimpin Madrasah Nizamiyah di Bagdad dan sekaligus sebagai guru besarnya.
2)   Mendirikan Madrasah untuk para calon ahli fikih di Tus.
3)   Menulis berbagai macam buku yang jumlahnya mencapai 288 buah, mengenai tasawuf, teologi, filsafat, logika, dan fikih.
Diantara bukunya yang terkenal, yaitu Ihya Ulum Ad Din, yakni membahas masalah-masalah ilmu akidah, ibadah, akhlak, dan tasawuf berdasarkan Al Qur'an dan Hadist. Sedangkan dalam bidang filsafat menulis tahaful Al Faiasifah (tidak konsistennya para filsuf). AI Ghazali merupakan ulama yang sangat berpengaruh di dunia Islam, sehingga mendapat gelar Huijatul Islam, bukti kebenaran Islam.
5.   Ibnu Rusyd (520-595 H)
Nama lengkapnya Abu AI Walid Muhammad Ibnu Rusyd, lahir di Cordova (Spanyol) tahun 520 H dan wafat di Marakesy (Maroko) tahun 595 H. Beliau menguasai ilmu fikih, ilmu kalam, sastra Arab, matematika, fisika astronomi, kedokteran, dan filsafat.
Karya-karya beliau, antara lain sebagai berikut :
1)        Kitab Bidayat Al Mujtahid (kitab yang membahas tentang fikih).
2)        Kuliyat Fi At Tib (buku tentang kedokteran, buku ini dijadikan pegangan bagi para mahasiswa kedokteran di Eropa).
3)        Fasl al Magal fi Ma Ba'in AI Hikmat wa Asy Syari'at.
Ibnu Rusyd berpendapat antara filsafat dan agama Islam tidak bertentangan, bahkan Islam menganjurkan para penduduknya untuk mempelajari ilmu filsafat.
2.3.2   Fikih
Fikih berarti tahu atau paham. Pengertian menurut istilah, yaitu ilmu yang menerangkan hukum-hukum syarak yang diambil dari dalil-dalilnya yang tafshili (terperinci).
a. Manfaat Fikih.
Fikih mempunyai manfaat yang besar dalam mengatur ketertiban hidup manusia di dunia, karena nantinya kebahagiaan akhirat ditentukan oleh corak kehidupan di dunia. fikih menunjukkan hukum-hukum seperti halal, haram, wajib, sunah, makruh, dan mubah. Ilmu fikihjuga dinamai dengan ilmu hal (ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia di dunia), ilmu halal wal haram (ilmu yang membahas halal dan haram), dan ilmu syariah wal ahkam (ilmu yang mempelajari undang-undang Allah SWT dan hukum-hukum Islam).
b. Tokoh-tokoh fikih dalam Islam.
Diantara tokoh-tokoh fikih terdapat empat ulama besar yang menghasilkan empat mazhab terkenal, yaitu sebagai berikut:
1.  Imam Abu Hanifah atau Mazhab Hanafi
Lahir di Kufah tahun 80 H dan meninggal di Baghdad tahun 150 H. Beliau seorang wadhi dalam iImu fikih (penyusun pertama ilmu fikih seperti susunan sekarang ini). Dalam penetapan hukumnya beliau berpegang pada Al Qur'an, hadist ar ro'yu (pemikiran), qiyas (analogi), istihsan (penilaian bahwa sesuatu itu baik), dan 'urf (adat kebiasaan yang tidak menyalahi hukum Islam). Mazhab Hanafi banyak dianut di Bagdad, Persia, Bukhara, Mesir, dan syam.
2.  Malik bin Anas/Mazhab Maliki
Lahir di Madinah tahun 93 H dan wafat pada usia 86 tahun. Beliau gemar dan tekun mempelajari Al Qur' an, Hadist, dan Ilmu fikih, sehingga terkenal sebagai penghafal Al qur'an dan Hadist. Diantara karyanya adalah sebagai berikut:
1)        Kitab Al Mudawamah Al Kubra (berisi himpunan fatwa Malik bin Anas) dalam ilmu fikih.
2)        Kitab al Muwatha, merupakan himpunan Hadist-Hadist Nabi Muhammad SAW yang terkenal sampai sekarang.
Beliau mendasarkan pemikiran hukumnya pada Al Qur'an, Hadist, ijmak, qiyas, maslahah mursalah, dan urf. Mazhab ini banyak dianut di Hijas, Maroko, Tunisia, Tripoli, Sudan, Bahrain, Kuwait, dan Mesir.
3.  Imam Syafi'i/Mazhab Syafi'i
Lahir di Ghaza tahun 150 H dan wafat di Mesir tahun 204 H. pada.usia 7 tahun beliau sudah hafal Al Qur'an dan usia 10 tahun hafal kitab Al Muwatha. Dalam penetapan hukumnya bersumber pada Al Qur'an, Hadist, ijmak, pendapat para Sahabat Nabi dan qiyas. Mazhab ini banyak dianut di negara Mesir, Palestina, India, Indonesia, Persia dan Yaman.
4.  Ahmad bin Hambal/Mazhab Hambali
Lahir di Baghdad tahun 164 H dan wafat tahun 241 H juga di Bagdad. Dasar pemikiran hukumnya berpegang pada AI Qur'an, Hadist, fatwa sahabat, dan qiyas. Mazhab ini banyak dianut di Irak, Mesir, Palestina, dan Saudi Arabia. Di Saudi Arabia mazhab ini menjadi mazhab resmi negara.
2.3.3   Tasawuf
Tasawuf diambil dari kata shafa yang artinya bersih, yang maksudnya adalah bersih hati, pikiran dan ucapan, serta perbuatan dari sifat tercela. Kata tasawuf juga berasal dari kata shuf yang berarti bulu domba yang kasar. Hal ini sesuai dengan pakaian yang dipakai kaum sufi (orang yang menjalani tasawuf) yang pakaiannya terbuat dari wol yang kasar sebagai lambang kesederhanaan hidupnya. Adapun pengertian tasawuf secara istilah adalah ilmu yang membahas mengenai tata cara dan proses penyucian diri dari segala sifat tercela, sehingga dapat berhubungan secara rohaniah. Yang dituju seorang sufi adalah taubat, zuhud (menjauhi pengaruh dunia), wara (menghindari diri dari sesuatu yang haram dan syubhat), sabar, tawakal, dan rela/ridha atas ketetapan Allah SWT.
a. Manfaat Tasawuf
Manfaat dari tasawuf adalah membersihkan jiwa, mendidik dan memperluas perasaan, menghidupkan hati menghidupkan hati mengingat Allah SWT dan mempertinggi derajat budi sehingga yang ditampilkan adalah budi pekerti yang mulia, sehingga dicintai Allah SWT dan sesama manusia. Sifat yang demikian sangat perlu dimiliki, terutama di tengah-tengah masyarakat yang dilanda oleh berbagai pengaruh negatif seperti pengaruh kehidupan kebendaan (materialistik), foya-foya, dan kemaksiatan lainnya. Dengan tasawuf, seorang akan memiliki ketahanan rohaniah, sehingga dirinya tidak terombang-ambing oleh pengaruh yang buruk.
b.  Tokoh Tasawuf
1.  Rabiah al Adawiyah
Beliau seorang sufi wanita yang lahir di perkampungan di luar kota Basrah (Irak) pada tahun 95 H (713 M) dan wafat pada tahun 185 H (801 M). Ajaran tasawufnya yang menonjol, yaitu tentang mahabbah (cinta kepada Allah SWT). Hal ini terlihat antara lain dalam salah satu ungkapan kata-katanya: " Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut pada neraka, bukan pula karena ingin masuk surga ... tapi aku mengabdi kepada-Nya karena cinta kepada-Nya."
2.  Al Hallaj
Nama lengkapnya adalah Abdul Muqith al Husain bin Mansyur al Hallaj, lahir di Baidha (Persia) pada tahun 244 H dan meninggal di Bagdad tahun 309 H. Beliau meninggal karena hukuman mati yang dijatuhkan oleh pengadilan dari kerajaan Bani Abbasiyah karena dianggap ajaran tasawufnya menyimpang dari syarak dan dapat mengganggu ketentraman masyarakat. Pendapatnya yang dianggap menyimpang yaitu Allah SWT menjelmakan dirinya pribadi Nabi Muhammad SAW, semua agama yang ada di dunia ini adalah agama Allah SWT dan seorang yang bersih batinnya, tentu dapat melaksanakan haji batin.

3.  Al Ghazali
Al Ghazali termasuk tokoh tasawuf ahli sunnah, diantara ajaran tasawufnya adalah tentang keutamaan. Menurutnya keutamaan akan diperoleh seseorang melalui empat cara, yaitu sebagai berikut :
1)        Memiliki keyakinan beragama yang benar.
2)        Bertaubat dari segala dosa dengan taubat yang sungguh-sungguh
3)        Mintalah kerelaan lawan.                                                 .
4)        Pelajarilah ilmu syariat (fikih) agar dapat beribadah dengan benar, sehingga terbebas dari siksa neraka.
4.  Abdul Farid Zunun Al Misri
Lahir di Naubah tahun 156 Hl773 M dan meninggal tahun 246 H atau 860 M. Disamping sebagai seorang sufi, ia juga ahli ilmu pengetahuan dan filsafat. Beliau dapat membaca huruf hieroglyph yang ditinggalkan di zaman Firaun di Mesir.         
5.  Abu Yazid al Bustami
Lahir di Bistam, Persia tahun 874 M dan meninggal pada tahun 947 M di Persia. Walaupun orang tuanya tergolong berada, namun Abu Yazid memilih hidup sederhana dan sangat menaruh kasih sayang kepada fakir miskin. Sebagian besar waktunya ia gunakan untuk beribadah kepada Allah SWT.
2.3.4   Kedokteran
Ilmu kedokteran dapat diartikan sebagai ilmu yang membicarakan cara-cara pemeliharaan tubuh manusia agar tetap sehat dan dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Selain itu, juga membahas tentang cara-cara penanggulangan atau penyembuhan tubuh yang terkena penyakit dengan cara mendiagnosis (menentukan) penyakitnya, kemudian mengobatinya (terapi). Dengan demikian, ilmu kedokteran meliputi unsur tindakan penjagaan tubuh dan penyakit (preventif) dan pengobatan ketika kena penyakit (kuratif).
Ajaran Islam sangat menganjurkan agar setiap orang menjaga kesehatannya, yaitu diantaranya dengan makan dan minum yang halal dan baik. Berolahraga, berpakaian bersih, mengatur lingkungan sehingga rapi, bersih serta dianjurkan berobat jika terkena penyakit.
a. Manfaat Ilmu Kedokteran
Adapun manfaatnya, antara lain sebagai berikut:
1)   Memberi petunjuk kepada umat manusia tentang cara-cara memelihara kesehatan dan usaha-usaha pencegahan terhadap eerbagai macam penyakit.
2)   Memberi pertolongan kepada orang sakit agar sembuh dari sakitnya.
3)   Memperoleh kebaikan-kebaikan baik bagi kehidupan duniawi maupun ukhrawi.
4)   Memperoleh tambahan bukti tentang adanya Allah dengansegala sifat-Nya yang Maha Sempurna, sehingga iman dan taqwanya meningkat.
b. Tokoh-tokoh muslim dalam ilmu kedokteran
1.    Hunain Ibnu Ishaq
Lahir pada tahun 809 M dan meninggal tahun 874 M. Beliau adalah dokter spesialis mata. Beliau telah menerjemahkan buku-buku kedokteran yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab.
2.    Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakaria Ar Razi
Lahir pada tahun 866 M dan meninggal tahun 909 M. Buku yang diberi judul Al Bawi jadikan pegangan di falkutas kedokteran. Beliau menemukan penyakit cacar dan membaginya menjadi cacar air (variola) dan cacar merah (rougella). Beliau juga menemukan terapi tekanan darah tinggi dan penggunaan kayu pengapit untuk patah tulang dan masih banyak lagi penemuannya.
3.    Ibnu Sina
Beliau seorang tokoh kedokteran yang ahli juga dalam bidang filsafat bukunya Al Qanun Fi Thib, merupakan buku yang terluas dipergunakan oleh kalangan kedokteran baik di negara Islam maupun negara Eropa. Dalam buku tersebut mengajarkan metode penormalan dengan jalan pembersihan luka (disinfection). Buku ini diperjelas dengan banyak gambar dan sketsa yang menunjukkan pengetahuan anatomi yang mendalam.
4.    Abu Marwan Malik Ibnu abil 'Ala Ibnu Zuhr
Lahir pad a tahun 1091 M dan meninggal tahun 1162 M. Bukunya AT Taiser  dipergunakan oleh dokter-­dokter sebagai buku pegangan terutama mengeani percobaan klinik dan beliau juga menulis kitabal Iqtidla, yang menjadikannya terkenal sebagai spesialis penyakit dalam.

5.    Ibnu Rusyd                   .
Selain filosof, ia juga perintis di bidang penelitian pembuluh darah dan penyakit cacar.
6.    Abdul Qasim Az Zahrawi
Beliau dikenal sebagai perintis ilmu pengenalan penyakit (diagnostic) dan cara penyembuhan (therapeu­tic) penyakit telinga, pembedahan telinga untuk pengembalian pendengaran.
2.3.5   Sejarah
Kata sejarah berasal dari bahasa Arab Syajarah, yang artinya pohon, maksud adalah pohon mengandung sesuatu yang tersembunyi yaitu akar. Jadi belajar sejarah jangan hanya melihat yang tampak saja, tapi juga harus sampai ke akarnya. Menurut istilah, sejarah adalah ilmu yang mempelajari tentang berbagai peristiwa masa lampau yang meliputi waktu dan tempat peristiwa itu terjadi, pelakunya, sebab-sebabnya, dan lain sebagainya yang disusun secara sistematis.
a. Manfaat sejarah
1)   Sebagai pelajaran bagi umat manusia yang hidup pada masa kini, khususnya agar tidak salah langkah dalam sikap dan berbuat.
2)   Mendorong manusia untuk bertoleransi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan benegara, sehingga kerukunan dapat terwujud.
3)   Dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan umat Islam.
b. Tokoh-tokoh muslim dalam ilmu sejarah    .           .
1.    Ibnu Qutaibah (213-276H)
Lahir di Kufah pada tahun 213 H dan wafat pada tahun 276 H. Beliau selain sejarawan muslim, juga seorang sastrawan terkenal dan ahli hadist yang disegani karya ilmiahnya cukup banyak, diantaranya bukunya yang berjudul Uyun AI Akhbar (kabar-kabar penting).
2.    Muhammad Ibnu Ishaq Ibnu yasar (85-151 H)
Lahir tahun 85 H (704 M). Karya ilmiahnya diantaranya berjudul As Siyar Wal Magazi (biografi dan ekspedisi) yang membahas tentang biografi dan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.
3.    Ibnu Khaldun
Lahir di Tunisia tahun 1322 M dan wafat di Kairo tahun 1406 M. Beliau menulis kitab Al Ihbar sebanyak 7 jilid. IImu sejarah menurut kaidah-kaidah yang digunakannya bersifat objektif ilmiah baik di dalam pengamatan,pengumpulan, dan penyajian fakta-fakta di dalam hubungannya, maupun di dalam penyimpulannya secara logika induktif. Sejarah menurutnya tak boleh hanya sekedar menyampaikan kisah­-kisah masuk akal maupun tidak, dengan cara dugaan (spekulasi). Dengan demikian, Ibnu Khaldun menjadi konseptor pertama historiografi modern.
4.    Ath Thabari
Selain penulis sejarab para rasul dan para raja serta sejarah umum, beliau juga dikenal sebagai penulis tafsir Al Qur'an. Beliau juga dikenal sebagai pengembara yang telah menjelajah kota, negeri, dan benua di dalam mengumpulkan bahan-bahan untuk karya sejarahnya.
2.3.6   Geografi
Kata geografi berasal dai Bahasa Yunani, yaitu geo yang artinya bumi dan grafi yang berarti gambar. Maksudnya adalah penggambaran letak bumi Secara istilah, geografi adalah ilmu yang menerangkan tentang kondisi suatu daerah dengan segala keadaannya seperti iklim, potensi alam. keadaan penduduk, dan sebagainya. Dengan mengetahui ilmu geografi dapat menentukan pembangunan di bidang pertanian, industri, perubahan dan pembangunan sosial masyarakat.
a.  Tokoh-tokoh muslim dalam ilmu geografi
Diantaranya Al Khawarizmi, Al Bihuni, Al Maqdisi, Al Istaksi, Ibnu Hawqak, Ibnu Batuta, Al Hamdani, Yakut Ibnu Abdullah, AI Hamawi, dan Al Mas’udi.
2.3.7   Geometri
Geometri adalah sebagai ilmu ukur cabang matematika yang menerangkan sifat-sifat garis, sudut, bidang, dan ruang.
a. Manfaat Ilmu Geometri
Ilmu geometri dapat dimmanfaatkan antara lain untuk kepentingan para perancang bangunan agar dapat kokoh dan tahan terhadap goncangan/bertahan lama.
b. Tokoh muslim dalam ilmu geometri
1.    Al Khawarizmi (194 H/780 M - 266 H/850M)
Beliau menulis buku yang berjudul Al Jabr wal Muqabala (pengetahuan kembali dan perbandingan) sebagai pendorong munculnya ilmu pasti di Eropa pada abad pertengahan. Dari sini muncul istilah algebra di dalam di dalam bahasa Eropa, demikian juga istilah algorisma (algoritme) berasal dari nama Al Khawarizmi. Buku itulah yang memperkenalkan angka-angka Arab dan sistem persepuluh kepada Eropa.
2.    An Nuraizi (770 M-833M)
Beliau telah membuat planetarium yang ketepatannya diakui oleh angkatan yang yang datang seabad kemudian, yakni Ahmad Ibnu Yunus (958 M - 1009 M) dari kerajaan Tabimiyah di Mesir. Beliau juga membuat peneropong bintang untuk menggambarkan gerak benda-benda angkasa dan untuk mengukur jarak.
3.    Ali Hasan Ibnu Haitam (965 M,- j023M)
Beliau menemukan bentuk lengkung yang ditempuh cahaya ketika berjalan di udara. Alat ini dapat melihat cahaya bulan dan matahari belum bendanya benar-benar tampak di cakrawala.
4.    Umar Khayam
Bukunya Al Jabar diterjemahkan oleh E. Weopok ke dalam bahasa Perancis. Al Jabar karya Umar Khayam ini lebih maju dari Al Jabar karya Buktides dan AI Khawarizmi.

2.4  Perkembangan Kebudayaan Islam pada Abad Pertengahan
Perkembangan kebudayaan Islam timbul setelah diawali sederetan kebudayaan manusia dan seiring dengan sederetan kebudayaan setelahnya. Kebudayaan-kebudayaan Islam pada abad pertengahan yang menonjol diantaranya:
2.4.1  Arsitektur
Kata Arsitektur, berasal dari bahasa Yunani, yaitu architectur yang berasal dari kata arche yang berarti asli, awal, dan otentik, serta tektoo yang bermakna bediri stabil dan kokoh. Arsitektur Islam adalah ilmu sekaligus seni merancang bangunan ataupun struktur lain yang fungsional dan dirancang berdasarkan kaidah estetika Islam yang bertolak dari pengakuan akan keesaan Allah swt., yang terdapat pada masjid, istana, dan makam. Di Persia pada masa keemasan Dinasti Safawi telah dibangun Masjid Syah (Masjid Imam), Masjid Syekh Lutfullah, Istana Cebil Sutun, Jembatan Khaju, dan menara- menara goyang. Selain itu, di kota Masyhad (ibu kota provinsi Khurasan) terdapat makam Imam Al ar Rida , dan tidak jauh dari makam itu terdapat Masjid Imam Reza dengan arsitektur Islam berkualitas tinggi. Di India, pada masa kejayaaan Kerajaan Mogul telah didirikan bangunan-bangunan megah dengan arsitektur mengagumkan, seperti istana megah di Delhi dan Lahore, masjid Jami di Aunfur, Benteng Merah, dan lain- lain. Ada juga makam yang menakjubkan dan salah satu keajaiban dunia Taj Mahal yang merupakan persemayaman Almarhum Mumtaz Mahal, istri Syeh Jehan. Di Turki, pada masa keemasan pemerintahan Kerajaan Usmani, telah dibangun beberapa masjid dengan gaya arsitektur tinggi, antara lain Masjid Agung Sultan Muhammad Al Fatih, Masjid Agung Sulaiman yang merupakan masjid terindah di Turki masa itu, dan lain- lain. Di Indonesia ternyata juga telah didirikan bangunan- bangunan bergaya arsitektur Islam, yakni masjid, istana, dan makam. Seperti, Masjid Agung Demak (1506 M), Masjid Agung Kraton Buton di Baubau, Sulawesi Tenggara (1712 M).
2.4.2  Seni Sastra
Sastrawan- sastrawan muslim yang hidup pada abad pertengahan, antara lain :
1. Farirudin al Attar (1119-1230 M) lahir di Nisabur, timur laut Persia. Beliau menulis puisi dan menyusun petuah- petuah sufi selama 39 tahun. Karyanya yang sangat terkenal adalah Mantiz at Tair (musyawarah burung) sebuah sajak yang menceritakan pengalaman religius kaum sufi.
2. Jalaluddin ar Rumi (1207-1273) lahir di Afganistan dan wafat di Turki, merupakan keturunan sahabat Abu Bakar asSiddiq r.a. Beliau adalah seorang penyair sufi terbesar pada masanya yang mendapat gelar maulana (tuan kami). Karya tulisnya antara lain, Diwan Syamsi Tabriz dan Matnawi.
3. Saadi Syiraj (wafat di Syiraj antara 1291-1295 M) beliau merupakan sastrawan Persia. Karya Tulisnya yang terpenting berjudul Bustan (kebun buah) dan Ghulistan (kebun bunga). Yang menceritakan tentang nilai- nilai luhur Islam.
4. Fuzuli (wafat sekitar tahun 1556 M) salah satu karyanya yang terkenal adalah puisi berjudul Shikeyetname (pengaduan).Fuzuli bertempat tinggal di Irak
5. Amir Khusran (1235-1325) beliau lahir di Patiala, barat laut India, karya- karyanya antara lain Qiranus Sadain, Thuglak Namah yang berbentuk epos. Keadaan seni sastra di Indonesia pada abad pertengahan dapat diketahui dengan munculnya beberapa sastrawan muslim, seperti Hamzah Fansuri (akhir abad 16, awalabad 17), Sumatera; Syamsuddin Passai (1630 M); Sunan Kalijaga, Ki Ageng Selo, Sunan Panggung, dan Sunan Bonang,Jawa. Karya-karya mereka pada umumnya berisi nasihat-nasihat agama.


BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Pada abad pertengahan, Islam mengalami kemunduran. Hal ini ditandai  dengan tidak aadanya lagi kekuasaan Islam yang utuh yang meliputi seluruh wilayah Islam, dan terpecahnya Islam menjadi kerajaan-kerajaan yang terpisah.
Pada saat kerajaan-kerajaan Islam dan umat Islam di berbagai wilayah di Asia dan Afrika berada dalam keadaan lemah, sebaliknya di Eropa justru dalam keadaan kuat. Perkembangan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi baru di bangsa Eropa, seperti Spanyol, Inggris, Prancis, Portugis, dan Belanda dalam keadaan kuat dan maju, yang salah satu faktornya adalah dari dunia Islam. Pada awalnya, bangsa Eropa mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan dari Islam pada periode klasik, seperti ilmu kedokteran, sejarah, pertambangan dan kimia yang kemudian mereka dalami dan kembangkan sendiri hingga berhasil melaksanakan revolusi diberbaai bidang.
Selanjutnya, bangsa Eropa berusaha menjajah negara-negara lemah, khususnya kerajaandan umat Islam yang ada di wilayah Benua Asia dan Afrika, yang bertujuan untuk :
1.    Gold, untuk memperoleh keuntungan besar, khususnya di bidang perdagangan bangsaEropa.
2.    Glory, untuk mencapai kejayaan atau kekuasaan
3.  Gospel, untuk menyebarluaskan agama Kristen.Untuk meraih keuntungan besar, bangsa Eropa melakukan usaha monopoli di bidang perdagangan, antara lain dengan cara merebut dan menguasai pusat-pusat perdagangan yang semula dikuasai umat Islam, diantaranya :
1)   Kota di pantai barat India, direbut pada tahun 1510 M yang dijadikan benteng dan pangkalan untuk menyaingi perdagangan umat Islam dengan Afrika Timur.
2)   Pelabuhan Malaka, pada tahun 1511 dikuasai dan dijadikan sebagai pangkalan untuk menyaingi perdagangan umat islam di luar dan dalam Indonesia. Akhirnya, setelah Eropa bertambah kuat, sedangkan kerajaan-kerajaan Islam dan umat Islam semakin lemah terutama di bidang ekonomi, militer, dan ilmu pengetahuan, mereka pundijadikan negara jajahan oleh bangsa Eropa. Yang mengakibatkan kemunduran umat Islamdi berbagai bidang.

3.2  Saran
Dalam penulisan makalah ini mungkin ada kekurangan atau kesalahan dalam pembahasan materi yang disajikan. Mohon agar kesalahan dan kekurangan yang ada agar dimaklumi, karena keterbatasan pengalaman dan sumber-sumber yang kami miliki. Atas perhatian dan kesediaanya membeca makalah ini, kami sampaikan terima kasih.



DAFTAR PUSTAKA
Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid Ibid., Jakarta :UI Press, 1985
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta,Rajagrafindo Persada, 2000
http://atpic.wordpress.com/                                                       
     http://www.keajaibandunia.net/info/konsep-kekuasaan-kerajaan-hindu-budha-dan-islam.html



No comments:

Post a Comment